BPDPKS: Produktivitas sawit tertinggi dibandingkan minyak nabati lain

Jakarta (ANTARA News) – Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Dono Boestami mengatakan produktivitas kelapa sawit paling tinggi dibandingkan sumber minyak nabati lainnya.

“Produktivitas kelapa sawit bisa mencapai sekitar empat ton per hektare,” ujar Dono dalam pembukaan program Regular Oil Palm Course 2018 di Jakarta, Senin.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan produktivitas biji rapa (rapeseed) sebesar 0,7 ton per hektare, biji bunga matahari 0,6 ton per hektare, dan biji kedelai 0,4 ton per hektare.

Dari segi produktivitas, menurut Dono, dapat disimpulkan bahwa kelapa sawit menjadi sumber minyak nabati yang dapat mendukung efisiensi lahan dan mendukung prinsip perkebunan berkelanjutan.

“Indonesia sekarang memberlakukan moratorium lahan, sehingga kami tidak lagi memperluas lahan tetapi lebih mengintensifkan produktivitas,” kata Dono di hadapan para peserta program, yang berasal dari 10 negara.

Program tersebut ditujukan untuk mempromosikan industri kelapa sawit berkelanjutan Indonesia, terutama kepada para akademisi dan perwakilan lembaga swadaya masyarakat dari Eropa.

Baca juga: Ini cara Indonesia promosikan industri sawit berkelanjutan pada akademisi Eropa

Indonesia merupakan salah satu produsen utama kelapa sawit dengan produksi mencapai 53 persen dari total produksi dunia.

Sebagai industri padat karya yang memberikan kontribusi nilai ekspor sebesar Rp240 triliun per tahun, sektor kelapa sawit memengaruhi mata pencaharian sekitar 20 juta orang Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung.

Karena itu, Indonesia merasa perlu berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang pengolahan sawit kepada para peserta dari negara lain, untuk menunjukkan bahwa industri sawit Tanah Air telah mengimplementasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Sebagai sumber minyak nabati yang paling produktif dan efisien, pelaku industri sawit berkomitmen mendukung peningkatan manajemen berkelanjutan termasuk pemenuhan standar internasional,” tutur Dono.

Indonesia juga telah memberlakukan sistem pengelolaan perkebunan dan industri sawit berkelanjutan (ISPO) yang sifatnya wajib bagi petani kecil maupun perusahaan besar.

Baca juga: Indonesia minta UE hentikan pelabelan produk “Bebas Minyak Sawit”
Baca juga: Industri sawit berkelanjutan bertumpu pada petani kecil

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018