Menkeukatakan kualitas modal manusia harus diperbaiki

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kualitas modal manusia atau human capital Indonesia harus terus diperbaiki seiring dengan peningkatan jumlah anggaran negara untuk pendidikan yang mencapai hampir Rp500 triliun pada 2019.

Sri Mulyani di acara Penganugerahan Habibie Award Periode XX Tahun 2018 di Jakarta, Selasa, menjelaskan bahwa Indonesia dalam HCI (Human Capital Index) Bank Dunia berada di peringkat 87 dari 157 negara dengan nilai 0,53.

“Kalau dibandingkan dengan negara berpendapatan menengah yang agak baik, Indonesia paling rendah. Jadi kita tidak buruk sekali namun kita jelas tidak cukup ada di liga yang di depan,” ujar dia.

Nilai HCI empat negara dengan pendapatan menengah di kawasan ASEAN lainnya yaitu Malaysia 0,62; Filipina 0,55; Thailand 0,60; dan Vietnam 0,67.

HCI mencerminkan produktivitas anak yang lahir hari ini sebagai pekerja masa depan, dibandingkan dengan kemungkinan yang bisa terjadi jika ia memiliki kesehatan yang baik dan pendidikan yang lengkap serta berkualitas tinggi.

Ukuran penghitungan meliputi tiga kriteria, yakni kelangsungan hidup, pendidikan, dan kesehatan. Menurut kriteria tersebut, jika skor suatu negara misalnya 0,5, berarti individu dan negara secara keseluruhan kehilangan setengah potensi ekonomi masa depan mereka.

Sri Mulyani mengatakan bahwa perekonomian perlu dijaga momentum kemajuan dan pertumbuhannya sebagai penjamin dalam rangka memajukan kualitas sumber daya manusia (SDM).

“Di dalam mengelola perekonomian, semakin kemajuan dijaga maka semakin akan ada kemampuan lebih dan makin besar untuk bisa menekuni dan mengalokasikan anggaran untuk bidang yang sifatnya fundamental bagi kemajuan bangsa kita,” kata Sri Mulyani.

Baca juga: Menkeu undang donatur Bank Dunia investasi pengembangan “human capital” Indonesia
Baca juga: Bank Dunia: Indonesia perlu tingkatkan investasi “human capital”

Pewarta: Calvin Basuki
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2018