Harga minyak turun tipis, Brent di posisi 84,8 dolar per barel

New York (ANTARA News) – Harga minyak sedikit menurun pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), setelah reli selama tiga sesi berturut-turut, tetapi tetap dekat posisi tertinggi empat tahun karena kekhawatiran pasokan global akan berkurang akibat sanksi-sanksi Washington terhadap Iran.

“Ini adalah saat pasar sedang menarik napasnya,” kata Gene McGillian, direktur riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut, dikutip dari Xinhua.

Selain karena kekhawatiran sanksi-sanksi terhadap Iran, harga minyak sedang didukung oleh permintaan global yang tetap kuat dalam menghadapi ketegangan perdagangan.

Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember, kehilangan 0,18 dolar AS menjadi menetap pada 84,80 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, sehari setelah mencapai level tertinggi empat tahun di 85,45 dolar AS.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) AS, turun tipis 0,07 dolar AS menjadi ditutup pada 75,23 dolar per barel di New York Mercantile Exchange, setelah sebelumnya menyentuh tingkat tertinggi empat tahun di 75,91 dolar AS.

Para analis yang disurvei oleh Reuters meramalkan bahwa stok minyak mentah AS naik sekitar dua juta barel pekan lalu, menjelang data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) yang akan keluar pada pukul 16.30 waktu setempat dan dari pemerintah AS pada Rabu pagi waktu setempat.

Harga minyak mentah naik tiga kali lipat dari posisi terendah yang dicapai pada Januari 2016 setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia memangkas produksi mereka.

Sentimen pasar minyak juga terangkat oleh kesepakatan terakhir pada Minggu (30/9) untuk menyelamatkan NAFTA sebagai pakta trilateral antara Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Sanksi-sanksi AS terhadap industri minyak Iran, yang pada puncaknya tahun ini memasok hampir tiga persen dari konsumsi harian dunia, akan mulai berlaku pada 4 November.

Sebuah survei Reuters tentang produksi OPEC menemukan produksi Iran pada September turun 100.000 barel per hari, sementara produksi dari OPEC secara keseluruhan naik sebesar 90.000 barel per hari dari Agustus.

“Para analis minyak kami percaya sekarang ada risiko yang semakin besar (minyak mentah) dapat menyentuh 100 dolar AS per barel,” kata HSBC dalam prospek Ekonomi Global kuartal keempatnya.

Banyak analis mengatakan OPEC akan berjuang untuk menutupi penurunan ekspor dari Iran. Namun demikian bank Barclays Inggris, mengatakan, “OPEC memiliki banyak kapasitas cadangan.”

Melonjaknya harga minyak mentah dan melemahnya mata uang negara-negara berkembang dapat mengikis pertumbuhan ekonomi.

“Pelemahan pertumbuhan permintaan dan pasokan baru akan mendinginkan sentimen `bullish` dan mendorong harga lebih rendah pada akhir tahun ini,” kata Barclays.

Baca juga: Harga minyak melonjak ke tingkat tertinggi sejak 2014
 

Pewarta:
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018